Thursday, January 17, 2013

ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Khalifah (Arab:خليفة Khalīfah) adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (570–632). Khalifah juga sering disebut sebagai Amīr al-Mu'minīn (أمير المؤمنين) atau "pemimpin orang yang beriman", atau "pemimpin orang-orang mukmin", yang kadang-kadang disingkat menjadi amir[1]. Setelah kepemimpinan al-Khulafa’ al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib), kekhalifahan yang dipegang berturut-turut oleh Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan Kesultanan Utsmaniyah serta beberapa kekhalifahan kecil, berhasil meluaskan kekuasaannya sampai ke Spanyol, Afrika Utara, dan Mesir.
Khalifah berperan sebagai pemimpin ummat baik urusan negara maupun urusan agama. Mekanisme pemilihan khalifah dilakukan baik dengan pemilu ataupun dengan Majelis Syura' yang merupakan majelis Ahlul Halli wal Aqdi yakni para ahli ilmu (khususnya keagamaan) dan mengerti permasalahan ummat. Mekanisme pengangkatannya dilakukan dengan cara bai'at yang merupakan perjanjian setia antara Khalifah dengan ummat. Khalifah memimpin sebuah Khilafah, yaitu sebuah sistem pemerintahan yang begitu khas, dengan menggunakan Islam
sebagai Ideologi serta undang-undangnya mengacu kepada al-Quran & Hadits.
Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang menggantikannya sebagai pemimpin politik umat Islam setelah Nabi wafat. Tampaknya Nabi menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Maka setelah itulah terjadi berbagai persoalan di awal masa khulafaurrosyidin.
Al-khulafa’ al-Rosyidin (11-41 H/632-661 M), yang berkedudukan di Madinah al-Munawwarah itu hanya berkuasa selama tiga puluh tahun menurut tahun Hijrah dan dua puluh sembilan untuk tahun Masehi. Para pejabat kekuasaan tertinggi dalam Khulafaurrosyidin itu bukan dari satu turunan, tetapi dipilih dan diangkat berdasarkan permufakatan dan persetujuan masyarakat Islam saat itu. Khulafaurrosyidin itu bermakna pengganti-pengganti cendekiawan[2] yang terdiri dari empat tokoh sepeninggal Nabi Muhammad yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai risalat[3] dan imamat[4], namun fungsi yang pertama tidak bisa digantikanoleh siapapun, yang pengutusannya berupa rahmatan lil’alamin[5] dan merupakan Rasul terakhir dan penutup.[6] Akan tetapi, fungsi yang kedua itu digantikan kedudukannya oleh para pejabat kekuasaan tertinggi sepeninggal Nabi.
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      bagaimana kemajuan Islam pada masa al-Khulafa’ al-Rosyidin (Abu Bakar ash-shiddiq, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan) dan corak pemerintahan masing-masing khalifah?
2.      apa saja sejarah pemikiran masing-masing khalifah dalam mengambil kebijakan pada masa pemerintahannya?
3.      apa fakta utama atas pembunuhan Utsman bin Affan?
C. Tujuan dan manfaat
            Tujuan dan manfaat yang dapat diperoleh dalam pembahasan ini antara lain:
1.      untuk mengetahui sejarah pemikiran masing-masing khalifah dalam mengambil kebijakan.
2.      dapat membedakan corak pemerintahan masa khilafah dengan dinasti setelahnya.
3.      mengambil ibroh kejayaan Islam pada masa kemajuan Islam al-Khulfa’ al-Rosyidin.





BAB II
ISLAM MASA KHALIFAH ABU BAKAR (632-634M)
Abu Bakar menerima jabatan Khalifah pada saat sejarah Islam dalam keadaan krisis dan gawat. Yaitu timbulnya perpecahan, munculnya para nabi palsu dan terjadinya berbagai pemberontakan yang mengancam eksistensi negeri Islam yang masih baru. Memang pengangkatan Abu Bakar berdasarkan keputusan bersama (musyawarah di balai Tsaqifah Bani Sa’idah) akan tetapi yang menjadi sumber utama kekacauan ialah wafatnya nabi dianggap sebagai terputusnya ikatan dengan Islam, bahkan dijadikan persepsi bahwa Islam telah berakhir.
Abu Bakar bukan hanya dikatakan sebagai Khalifah, namun juga sebagai penyelamat Islam dari kehancuran karena ia telah berhasil mengembalikan ummat Islam yang telah bercerai berai setelah wafatnya Rasulullah SAW. Di samping itu Abu Bakar juga berhasil memperluas wilayah kekuasaan Islam. Jadi dapat disimpulkan bahwa letak peradaban pada masa Abu Bakar adalah dalam masalah agama (penyelamat dan penegak agama Islam dari kehancuran serta perluasan wilayah) melalui sistem pemerintahan (kekhalifahan) Islam.

A. Peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah
Setelah Rasulullah SAW wafat, para sahabat segera berkumpul untuk bermusyawarah di suatu tempat yaitu Tsaqifah Bani Sa’idah (semacam MPR dulu dikenal dengan Nadi al-Qoum) guna memilih pengganti Rasulullah (Khalifah) memimpin ummat Islam. Musyawarah itu secara spontanitas diprakarsai oleh kaum Anshor. Sikap mereka itu menunjukkan bahwa mereka lebih memiliki kesadaran politik dari pada yang lain, dalam memikirkan siapa pengganti Rasulullah dalam memimpin umat Islam. Pihak Anshar mencalonkan Sa’ad bin Ubaidah.
Hingga peristiwa tersebut diketahui Umar, ia kemudian pergi ke kediaman Nabi dan mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar. Kemudian keduanya berangkat dan diperjalanan bertemu dengan Ubaidah bin Jarroh. Setibanya di balai Bani Sa’idah, mereka mendapatkan dua golongan besar kaum Anshor dan Muhajirin bersitegang. Dengan tenang Abu Bakar berdiri di tengah-tengah mereka, kemudian berpidato yang isinya merinci kembali jasa kaum Anshor bagi tujuan Islam. Di sisi lain ia menekankan pula anugrah dari Allah yang memberi keistimewaan kepada kaum Muhajirin yang telah mengikuti Muhammad sebagai Nabi dan menerima Islam lebih awal dan rela hidup menderita bersama Nabi. Abu bakar juga berpidato di hadapan para sahabat yang ada disana dengan alasan hadits Nabi: al-Aimmatu min Quraiys (kepemimpinan dalam Islam adalah dari golongan Quraisy). Akhirnya Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah ar-Rasul (pengganti Rasul)[7]. Abu Bakar terpilih menjadi khalifah  dengan alasan utamanya adalah senioritas karena sejak mula pertama Islam diturunkan menjadi pendamping Nabi, dialah sahabat yang paling memahami risalah Rasul. Abu Bakar merupakan tokoh tua yang sangat dihormati serta orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan tua. Setelah mereka sepakat dengan gagasan Umar, sekelompok demi sekelompok maju ke depan dan bersama-sama membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah. Baiat tersebut dinamakan baiat Tsaqifah karena bertempat di balai Tsaqifah Bani Sa’idah. Pertemuan politik itu berlangsung hangat, terbuka, demokratis dan berdaulat. Pertemua politik itu merupakan peristiwa sejarah yang penting bagi umat Islam. Sesuatu yang mengikat mereka tetap dalam satu kepemimpinan pemerintahan. Terpilihnya Abu Bakar menjadi Khalifah Pertama, menjadi dasar terbentuknya sistem pemerintahan Khalifah dalam Islam.

B. Sistem Politik Islam Masa Khalifah Abu Bakar
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah merupakan bukti bahwa Abu Bakar menjadi Khalifah bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi hasil dari musyawarah mufakat umat Islam. Dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi Khalifah, maka mulailah Abu Bakar menjalankan kekhalifahannya,  baik sebagai pemimpin umat maupun sebagai pemimpin pemerintahan, dan juga di sinilah prinsip demokrasi tertanam sejak awal perkembangan Islam[8]. Adapun sistem politik Islam pada masa Abu Bakar bersifat sentralistis sebagaimana yang diterapkan Nabi berdasarkan al-Qur’an Hadits, jadi kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah, meskipun demikian dalam memutuskan suatu masalah, Abu Bakar selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Kebijaksanaan politik yang dilakukan Abu Bakar dalam mengemban kekhalifahannya yaitu:
1. mengirim pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, untuk memerangi kaum Romawi sebagai realisasi dari rencana Rasulullah, ketika Nabi masih hidup. Sebenarnya dikalangan sahabat termasuk Umar bin Khatab banyak yang tidak setuju dengan kebijaksanaan Khalifah ini. Alasan mereka, karena dalam negeri sendiri pada saat itu timbul gejala kemunafikan dan kemurtadan yang merambah untuk menghancurkan Islam dari dalam. Tetapi Abu Bakar tetap mengirim pasukan Usamah untuk menyerbu Romawi, sebab menurutnya hal itu merupakan perintah Nabi SAW Pengiriman pasukan Usamah ke Romawi di Syam[9] pada saat itu merupakan langkah politik yang sangat strategis dan membawa dampak positif bagi pemerintahan Islam, yaitu meskipun negara Islam dalam keadaan tegang akan tetapi muncul interprestasi dipihak lawan, bahwa kekuatan Islam cukup tangguh. Para pemberontak menjadi gentar, disamping itu juga dapat mengalihkan perhatian umat Islam dari perselisihan yang bersifat intern[10].
2. timbulnya kemunafikan dan kemurtadan. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka segala perjanjian dengan Nabi menjadi terputus. Adapun orang murtad pada waktu itu ada dua yaitu ; a. Mereka yang mengaku nabi dan pengikutnya, termasuk di dalamnya orang yang meninggalkan sholat, zakat, dan kembali melakukan kebiasaan jahiliyah. ;b. Mereka membedakan antara sholat dan  zakat, tidak mau mengakui kewajiban zakat dan mengeluarkannya. Dalam menghadapi kemunafikan dan kemurtadan ini, Abu Bakar tetap pada prinsipnya yaitu memerangi mereka sampai tuntas. Abu  Bakar menghadapi mereka dengan tegas dan lugas, hanya memberikan dua alternatif kepada mereka, tunduk tanpa syarat atau diperangi dengan mengirim tentara.
3. khalifah di sisi lain juga serentak ekpedisi ke 12 front di bawah jenderal-jenderal di masing-masing batalyon, maka ketika para pembangkang kalah perang di salah satu front,lari ke wilayah lain pun tidak bertaan dan berkutik melawannya. Mengembangkan wilayah Islam keluar Arab. Ini ditujukan ke Syiria dan Persia. Untuk perluasan Islam ke Syiria yang dikuasai Romawi (Kaisar Heraklius), Abu Bakar menugaskan 4 panglima perang yaitu Yazid bin Abu Sufyan ditempatkan di Damaskus, Abu Ubaidah di Hims, Amir bin Ash di Palestina dan Surahbil bin Hasanah di Yordan. Usaha tersebut diperkuat oleh kedatangan Khalid bin Walid dan pasukannya serta Mutsannah bin Haritsah, yang sebelumnya Khalid telah berhasil mengadakan perluasan ke beberapa daerah di Irak dan Persia. Dalam peperangan melawan Persia disebut sebagai “pertempuran berantai”. Hal ini karena perlawanan dari Persia yang beruntun dan membawa banyak korban.

Adapun kebijakan di bidang pemerintahan yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah:
1. Pemerintahan Berdasarkan Musyawarah
     Apabila terjadi suatu perkara, Abu Bakar selalu mencari hukumnya dalam kitab Allah. Jika Abu Bakar tidak memperolehnya maka ia mempelajari bagaimana Rasul bertindak dalam suatu perkara. Jika tidak ditemukannya apa yang dicari, Abu Bakar pun mengumpulkan tokoh-tokoh yang terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah. Apapun yang diputuskan mereka setelah pembahasan, diskusi, dan penelitian, Nabipun menjadikannya sebagai suatu keputusan dan suatu peraturan.
2. Amanat Baitul Mal
     Para sahabat Nabi beranggapan bahwa Baitul Mal adalah amanat Allah dan masyarakat kaum muslimin. Karena itu mereka tidak mengizinkan pemasukan sesuatu kedalamnya dan pengeluaran sesuatu darinya yang berlawanan dengan apa yang telah ditetapkan oleh syari’at. Mereka mengharamkan tindakan penguasa yang menggunakan Baitul Mal untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi.
3. Konsep Pemerintahan
     Politik dalam pemerintahan Abu Bakar dengan corak pemerintahan yang bersifat senteralistis dan sangat merakyat, telah di jelaskan sendiri kepada rakyat banyak dalam sebuah pidatonya :
Wahai manusia ! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kamu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, maka bantulah (ikutilah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah ! orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat mengambil hak daripadanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah, aku pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan hak kepadanya. Maka hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun bilamana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kamu tidaklah perlu mentaatiku.[11]


4. Kekuasaan Undang-undang
     Abu Bakar tidak pernah menempatkan dirinya diatas undang-undang. Dia juga tidak pernah memberi sanak kerabatnya suatu kekuasaan yang lebih tinggi dari undang-undang. Mereka semua dihadapan undang-undang adalah sama seperti rakyat yang lain, baik kaum Muslim maupun non Muslim.




BAB II
ISLAM MASA KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB (634-644M)
            Menjelang wafat, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Disinilah tanpak perbedaan, di mana Abu Bakar yang diangkat dan di akui oleh mayoritas umat, sedangkan Umar diangkat dan ditunjuk oleh seorang saja. Hal tersebut dilakukan supaya tidak muncul permasalaan seperti ketika Nabi meninggalkan umat Islam untuk memilih penggantinya timbul perselisihan yang nyaris membawa umat Islam ke gerbang kehancuran.
A.   Ahlul Hall Wal ‘Aqdi
Dalam masa pemerintahannya, Umar telah membentuk lembaga-lembaga yang disebut juga dengan ahlul hall wal aqdi, di antaranya adalah:
1. Majelis Syura (Diwan Penasihat), ada tiga bentuk :
a. Dewan Penasihat Tinggi, yang terdiri dari para pemuka sahabat yang terkenal, antara lain Ali, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabbal, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Tolhah dan Zubair.
b. Dewan Penasihat Umum, terdiri dari banyak sahabat (Anshar dan Muhajirin) dan pemuka berbagai suku, bertugas membahas masalah-masalah yang menyangkut kepentingan umum.
c. Dewan antara Penasihat Tinggi dan Umum. Beranggotakan para sahabat (Anshar dan Muhajirin) yang dipilih, hanya membahas masalah-masalah khusus.
2. Al-Katib (Sekretaris Negara), di antaranya adalah Abdullah bin Arqam.
3. Nidzamul Maly (Departemen Keuangan) mengatur masalah keuangan dengan pemasukan dari pajak bumi, ghanimah, jizyah, fai’ dan lain-lain.
4. Nidzamul Idary (Departemen Administrasi), bertujuan untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat, di antaranya adalah diwanul jund yang bertugas menggaji pasukan perang dan pegawai pemerintahan.
5. Departemen Kepolisian dan Penjaga yang bertugas memelihara keamanan dalam negara.
6. Departemen Pendidikan dan lain-lain.

Pada masa Umar, badan-badan tersebut belumlah terbentuk secara resmi, dalam arti secara de jure belum terbentuk, tapi secara de facto telah dijalankan tugas-tugas badan tersebut. Meskipun demikian, dalam menjalankan roda pemerintahannya, Umar senantiasa mengajak musyawarah para sahabatnya.
B. Perluasan Wilayah
Ketika para pembangkang di dalam negeri telah dikikis habis oleh Khalifah Abu Bakar dan era penaklukan militer telah dimulai, maka Umar menganggap bahwa tugas utamanya adalah mensukseskan ekspedisi yang dirintis oleh pendahulunya. Belum lagi genap satu tahun memerintah, Umar telah menorehkan tinta emas dalam sejarah perluasan wilayah kekuasaan Islam. Pada tahun 635 M, Damaskus[12], Ibu kota Syuriah, telah ia tundukkan. Setahun kemudian seluruh wilayah Syuriah jatuh ke tangan kaum muslimin, setelah pertempuran hebat di lembah Yarmuk di sebelah timur anak sungai Yordania. Keberhasilan pasukan Islam dalam penaklukan Syuriah di masa Khalifah Umar tidak lepas dari rentetan penaklukan pada masa sebelumnya.
Khalifah Abu Bakar telah mengirim pasukan besar dibawah pimpinan Abu Ubaidah Ibn al-Jarrah ke front Syuriah. Ketika pasukan itu terdesak, Abu Bakar memerintahkan Khalid Ibn al-Walid yang sedang dikirim untuk memimpin pasukan ke front Irak, untuk membantu pasukan di Syuriah. Dengan gerakan cepat, Khalid bersama pasukannya menyeberangi gurun pasir luas ke arah Syuriah. Ia bersama Abu Ubaidah mendesak pasukan Romawi. Dalam keadaan genting itu, wafatlah Abu Bakar dan diganti oleh Umar bin al-Khattab. Khalifah yang baru itu mempunyai kebijaksanaan lain. Khalid yang dipercaya untuk memimpin pasukan di masa Abu Bakar, diberhentikan oleh Umar dan diganti oleh Abu Ubaidah Ibn al-Jarrah. Hal itu tidak diberitahukan kepada pasukan hingga selesai perang, dengan maksud supaya tidak merusak konsentrasi dalam menghadapi musuh. Damascus jatuh ke tangan kaum muslimin setelah dikepung selama tujuh hari. Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Abu Ubaidah itu melanjutkan penaklukan ke Hamah, Qinisrun, Laziqiyah dan Aleppo. Surahbil dan ‘Amr bersama pasukannya meneruskan penaklukan atas Baysan dan Jerussalem di Palestina. Kota suci dan kiblat pertama bagi umat Islam itu dikepung oleh pasukan Muslim selama empat bulan. Akhirnya kota itu dapat ditaklukkan dengan syarat harus Khalifah Umar sendiri yang menerima “kunci kota” itu dari Uskup Agung Shoporonius, karena kekhawatiran mereka terhadap pasukan Muslim yang akan menghancurkan gereja-gereja.
Dari Syuriah, laskar kaum muslimin melanjutkan langkah ke Mesir dan membuat kemenangan-kemenangan di wilayah Afrika Utara. Bangsa Romawi telah menguasai Mesir sejak tahun 30 SM. Dan menjadikan wilayah subur itu sebagai sumber pemasok gandum terpenting bagi Romawi. Berbagai macam pajak naik sehingga menimbulkan kekacauan di negeri yang pernah diperintah oleh raja Fir’aun itu. ‘Amr bin Ash meminta izin Khalifah Umar untuk menyerang wilayah itu, tetapi Khalifah masih ragu-ragu karena pasukan Islam masih terpencar dibeberapa front pertempuran. Akhirnya, permintaan itu dikabulkan juga oleh Khalifah dengan mengirim 4000 tentara ke Mesir untuk membantu ekspedisi itu. Tahun 18 H, pasukan muslimin mencapai kota Aris dan mendudukinya tanpa perlawanan. Kemudian menundukkan Poelisium (al-Farama), pelabuhan di pantai Laut Tengah yang merupakan pintu gerbang ke Mesir. Demikian juga dengan serangan-serangan terhadap Asia kecil yang dilakukan selama bertahun-tahun. Seperti halnya perang Yarmuk yang menentukan nasib Syuriah, perang Qadisia pada tahun 637 M, menentukan masa depan Persia. Pada tahun itu pula, seluruh Persia sempurna berada dalam kekuasaan Islam, sesudah pertempuran sengit di Nahawan. Isfahan juga ditaklukan. Demikian juga dengan Jurjan (Georgia) dan Tabristan, Azerbaijan. Orang-orang Persia yang jumlahnya jauh lebih besar dari pada tentara Islam, yaitu 6 dibanding 1, menderita kerugian besar. Kaum muslimin menyebut sukses ini dengan kemenangan dari segala kemenangan (fathul futuh). Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kekuasaan Islam pada masa itu meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syiria, Mesir dan sebagian besar Persia

C. Pengembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik
Periode kekhalifahan Umar tidak diragukan lagi merupakan abad emas Islam dalam segala zaman[13]. Periodenya terkenal dengan pembangunan Islam dan perubahan-perubahannya. Khalifah Umar bin Khattab mengikuti langkah-langkah Rasulullah dengan segenap kemampuannya, terutama pengembangan Islam. Ia bukan sekedar seorang pemimpin biasa, tetapi seorang pemimpin pemerintahan yang professional. Ia adalah pendiri sesungguhnya dari sistem politik Islam. Ia melaksanakan hukum-hukum Ilahiyah (syariat) sebagai code (kitab undang-undang) suatu masyarakat Islam yang baru dibentuk. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa Umar lah pendiri daulah islamiyah (tanpa mengabaikan jasa-jasa Khalifah sebelumnya). Banyak metode yang digunakan Umar dalam melakukan perluasan wilayah, sehingga musuh mau menerima Islam karena perlakuan adil kaum Muslim. Di situlah letak kekuatan politik terjadi. Dari usahanya, pasukan kaum Muslim mendapatkan gaji dari hasil rampasan sesuai dengan hukum Islam. Untuk mengurusi masalah ini, telah dibentuk Diwanul Jund. Sedangkan untuk pegawai biasa, di samping menerima gaji tetap (rawatib), juga menerima tunjangan (al-itha’). Khusus untuk Amr bin Ash, Umar menggajinya sebesar 200 dinar mengingat jasanya yang besar dalam ekspansi. Dan untuk Imar bin Yasar, diberi 60 dinar disamping tunjangan (al-jizyaat) karena hanya sebagai kepala daerah (al-amil). Dalam rangka desentralisasi kekuasaan, pemimpin pemerintahan pusat tetap dipegang oleh Khalifah Umar bin Khattab. Sedangkan di propinsi, ditunjuk Gubernur (orang Islam) sebagai pembantu Khalifah untuk menjalankan roda pemerintahan. Dalam pemerintahannya, terdapat Majlis Syura’, bagi umar tanpa musyawarah, maka pemerintahannya tidak bisa berjalan[14], selain itu membentuk departemen dan membagi daerah kekuasaan Islam menjadi delapan provinsi, membentuk kepala distrik yang disebut ‘amil, pada masanya juga terdapat kebijakan yang fenomenal dalam kebijakan ekonomi di Sawad (daerah subur), ia mengeluarkan dekrit bahwa orang Arab termasuk tentara dilarang transaksi jual beli tanah di luar Arab dengan alasan; mutu tentara Arab menurun, produksi menurun, negera rugi 80% dari pendapatan, dan rakyat akan kehilangan mata pencaharian yang menyebabkan mereka mudah memberontak terhadap negaga. Kebijakannya yang lain adalah menerapkan pajak perdagangan (bea cukai), dan lain-lain.
Pada akhir kepemimpinannya, Umar dibunuh oleh Abu Lu’lu (orang Persia). Hal ini dilatar belakangi oleh pemecatan Umar terhadap Mughirah Ibnu Syu’ba sebagai Gubernur Kuffah, karena Mughirah melakukan pembocoran rahasia Negara dan penghianatan[15]. Menjelang wafat Umar membentuk tim formatur untuk musyawarah menentukan penggantinya, tim formatur terdiri dari enam orang sahabat yaitu Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Talib, dan Saad ibn Waqas.


BAB V
ISLAM MASA KHALIFAH USTMAN BIN AFFAN (644-656M)
Utsman  memerintah selama 12 tahun. Dalam pemerintahannya, sejarah mencatat telah banyak kemajuan dalam berbagai aspek yang dicapai untuk umat Islam. Akan tetapi juga tidak sedikit polemik yang terjadi di akhir pemerintahannya. Pada masa Khalifah Ustman, konsep kekhalifaan sudah mulai mundur, dalam arti interest politik disekitar Khalifah mulai banyak diwarnai oleh dinamika kepentingan suku dan perbedaan interpretasi konsep kepemimpinan dalam Islam. Ketika itu sebenarnya Umar telah memilih jalan demokratis dalam menentukan penggantinya. ia diminta oleh sebagian sahabat untuk menunjukkan penggantinya. Maka jalan keluar yang ditempuh Khalifah Umar adalah memilih tim formatur enam orangyang terdiri dari: Ustman bin Affan, Ali Ibnu Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Ibnu Awwam, Sa’ad Ibnu Abi Waqqas dan Abdurrahman Ibnu Auf. Tim formatur tersebut diketuai olehAbdurrahman ditambah satu lagi yaitu Abdullah ibn Umar, namun ia tak memiliki hak untuk dipilih menjadi kalifah[16]. Kemudian formatur sepakat memilih Ustman sebagai Khalifah. Terpilihnya Ustman sebagai Khalifah ternyata melahirkan perpecahan dikalangan pemerintahan Islam. Pangkal masalahnya sebenarnya berasal dari persaingan kesukuan antara bani Umayyah dengan bani Hasyim atau Alawiyah yang memang bersaing sejak zaman pra Islam. Oleh karena itu, ketika Ustman terpilih masyarakat menjadi dua golongan, yaitu golongan pengikut Bani Ummayyah, pendukung Ustman dan golongan Bani Hasyim pendukung Ali. Perpecahan itu semakin memuncak dipenghujung pemerintahan Ustman, yang menjadi simbol perpecahan kelompok elite yang menyebabkan disintegrasi masyarakat Islam pada masa berikutnya.

A. Proses Kekhalifahan Ustman bin Affan
Tim formatur yang telah dibentuk Umar di akhir masa kepemimpinannya tersebut dikenal dengan sebutan Ahlul Halli wal Aqdi dengan tugas pokok menentukan siapa yang layak menjadi penerus Khalifah Umar bin Khattab dalam memerintah umat Islam. Suksesi pemilihan Khalifah ini dimaksudkan untuk menyatukan kembali kesatuan umat Islam yang pada saat itu menunjukkan adanya indikasi disintegrasi. Sahabat-sahabat yang tergabung dalam dewan, posisinya seimbang tidak ada yang lebih menonjol sehingga cukup sulit untuk menetapkan salah seorang dari mereka sebagai pengganti Umar. Walau pada akhirnya, mereka memutuskan Ustman bin Affan sebagai Khalifah setelah Umar bin Khattab. Di antara kelima calon hanya Tholhah yang sedang tidak berada di Madinah ketika terjadi pemilihan. Abdurahman Ibn Auf mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan musyawarah pemilihan Khalifah pengganti Umar. Ia meminta pendapat masing-masing nominasi. Saat itu, Zubair dan Ali mendukung Ustman. Ustman sendiri mendukung Ali, tetapi Ali menyatakan dukungannya terhadap Ustman. Kemudian Abdurahman bin Auf mengumpulkan pendapat-pendapat sahabat besar lainnya. Akhirnya suara mayoritas menghendaki dan mendukung Ustman. Lalu ia dinyatakan resmi sebagai Khalifah melalui sumpah, dan baiat seluruh umat Islam. Pemilihan itu berlangsung pada bulan Dzul Hijjah tahun 23 H atau 644 M dan dilantik pada awal Muharram 24 H atau 644 M. Ketika Tholhah kembali ke Madinah Ustman memintanya menduduki jabatannya, tetapi Tholhah menolaknya seraya menyampaikan baiatnya. Demikian proses pemilihan Khalifah Ustman bin Affan berdasarkan suara mayoritas.

B. Perluasan Wilayah
Khalifah Utsman mengutus Sa’ad bin al-Ash bersama Khuzaifah Ibnu al-Yamaan serta beberapa sahabat Nabi lainnya pergi ke negeri Khurosan dan sampai di Thabristan dan terjadi peperangan hebat, sehingga penduduk mengaku kalah dan meminta damai. Tahun 30 H/ 650 M pasukan Muslim berhasil menguasai Khurazan. Adapun tentang Iskandariyah, bermula dari kedatangan Kaisar Konstantinopel II dari Romawi Timur atau Bizantium yang menyerang Iskandariyah dengan mendadak, sehingga pasukan Islam tidak dapat menguasai serangan. Panglima Abdullah bin Saad bin Abi Sarah yang menjadi wali di daerah tersebut meminta pada Khalifah Utsman untuk mengangkat kembali panglima Amru bin ‘Ash yang telah diberhentikan untuk menangani masalah di Iskandariyah. Abdullah bin Abi Sarah memandang panglima Amru bin ‘Ash lebih cakap dalam memimpin perang dan namanya sangat disegani oleh pikak lawan. Permohonan tersebut dikabulkan, setelah itu terjadilah perpecahan dan menyebabkan tewasnya panglima di pihak lawan. Selain itu, Khalifah Ustman bin Affan juga mengutus Salman Robiah al-Baini untuk berdakwah ke Armenia. Ia berhasil mengajak kerjasama penduduk Armenia, bagi yang menentang dan memerangi terpaksa dipatahkan dan kaum muslimin dapat menguasai Armenia.
Perluasan Islam memasuki Tunisia (Afrika Utara) dipimpin oleh Abdullah bin Sa‘ad bin Abi Sarah. Tunisia sebelum kedatangan pasukan Islam sudah lama dikuasai Romawi. Tidak hanya itu saja pada saat Syiria bergubernurkan Muawiyah, ia berhasil menguasai Asia kecil dan Cyprus. Dimasa pemerintahan Utsman, negeri-negeri yang telah masuk ke dalam kekuasaan Islam antara lain: Barqah, Tripoli Barat, sebagian Selatan negeri Nub’ah, Armenia, dan beberapa bagian Thabaristan bahkan tentara Islam telah melampaui sungai Jihun (Amu Daria), negeri Balkh (Baktria), Hera, Kabul dan Gzaznah di Turkistan. Jadi Enam tahun pertama pemerintahan Ustman bin Affan ditandai dengan perluasan kekuasaan Islam. Perluasan dan perkembangan Islam pada masa pemerintahannya telah sampai pada seluruh daerah Persia, Tebristan, Azerbizan dan Armenia selanjutnya meluas pada Asia kecil dan negeri Cyprus. Atas perlindungan pasukan Islam, masyarakat Asia kecil dan Cyprus bersedia menyerahkan upeti sebagaimana yang mereka lakukan sebelumnya pada masa kekuasaan Romawi atas wilayah tersebut.

C. Konflik dan Kemelut Politik Islam Masa Utsman bin Affan
            Selama pemerintahan Utsman di bagi menjadi dua periode, yaitu periode kemajuan dan periode kemunduran. Pada periode kemajuan pemerintahan Utsman mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Peta Islam semakin meluas hingga perbatasan al-Jazair (Barqah dan Tripoli, Syprus di front barat)[17]. Di bagian Utara sampai Aleppo dan sebagian Asia kecil, Transoxiana, adapun di bagian Timur seluruh Persia bakan sampai wilayah Balucistan[18].  Selain itu Utsman berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan mengalau serangan-serangan di Laut Tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium. Namun, priode kemunduran kekuasaannya identik dengan kemunduran dengan huru-hara dan kekacauan yang luar biasa sampai akhir hayatnya.
            Sebagian ahli sejarah menilai, bahwa Utsman melakukan nepotisme. Hal ini terlihat dari pengangkatan sanak saudaranya dalam jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan, hampir semua pejabat Negara dan panglima pada masa Umar dipecat olehnya kemudian mengangkat pengganti mereka dari keluarga yang tidak mampu dan tidak cakap untuk menjadi pengganti.
            Beberapa tuduhan nepotisme/KKN yang tujukan pada Utsman antara lain; Muawiyyah ibn Abi Sufyan yang merupakan masih satu suku dan keluarga dekat dengan Utsman mengganti Gubernur Syam, di Bashrah Abdullah ibn Amir yang merupakan sepupu Utsman menggantikan Musa al-Asy’ari, di Kuffah Utsman memecat Mughirah ibn Syu’bah yang pada saat masa Umar ampir di pecat tetapi baru terlaksana pada masa Utsman, di Kuffah Gubernurnya diganti sebanyak enam kali, selain dari Mughirah yaitu Saad ibn Abi Waqas, kemudian Saad ibn Abi Waqas, seseorang pilihan rakyat Bashrah namun hanya memimpin selama beberapa bulan kemudian dilanjutkan dengan Walid ibn Uqbah yang merupakan saudara susuan Utsman, selanjutnya Said ibn al-Ash yang merupakan keponakan Khalid, terakhir adalah Musa al-Asy’ari yang merupakan mantan Gubernur Bashrah dan bukan merupakan famili Utsman. Adapun di Mesir Amr bin ash yang merupakan Amir seluruh Mesir dan Abdullah ibn Saad amil di Nubai yang diangkat pada masa Umar, namun saat khalifah meminta laporan tahunan keduanya terdapat ketimpangan yaitu gagal mengumpulkan pajak, pada saat itu Abdullah mengumpulkan pajak dua kali lipat dari Amr. Khalifah meminta mlaporan keduanya karena khalifah butuh biaya banyak untuk membangun armada, Utsman ingin Amr tetap menjadi panglima dan gubernur seluruh Mesir dan menjadikan Abdullah ‘amil. Namun kemudian Amr memperotes khalifah dengan keras, akhirnya ia dipecat dan menjadikan Abdullah sebagai gubernur. Menurut M. Abdul Karim (2012:97-98) pemecatan Amr dari jabatannya sebagai gubernur adalah untuk mengambil hati rakyat Mesir dengan memungut pajak sesedikit mungkin membuat situasi kacau antara Mesir Selatan (di mana Abdullah sebagai ‘amil yang memungut pajak dua kali lipat dari pada Mesir di Utara) dengan Mesir Utara. Selisih kebijakan ekonomi ini juga menimbulkan keresahan di kalangan rakyat Nubia.
            Perlu diketahui terdapat fakta lain di balik tuduhan nepotisme/KKN yang ditujukan pada Utsman antara lain: a) pengangkatan Muawiyah ibn Abi Sufyan yang mengganti Gubernur Syam adalah karena kecakapan dan kemampuannya, terutama waktu menghadapi Bizantium, ia menunjukkan keberhasil yang sangat luar biasa. b) di Bashrah Abdullah ibn Amir yang merupakan sepupu Utsman, ia merupakan orang yang menaklukkan Persia yang menggantikan Musa al-Asy’ari, padahal ia banyak mengumpulkan hadits akan tetapi ia tidak disukai rakyat, Musa merupakan panglima ke Kurd, pidatonya memerintahkan agar berhemat, tetapi malah ia sendiri memakai jubah yang mahal serta menggunakan kuda yang mahal, ia juga terkenal kikir. c) di Kuffah Utsman memecat Mughirah ibn Syu’bah yang pada saat masa Umar ampir di pecat tetapi baru terlaksana pada masa Utsman, di Kuffah Gubernurnya diganti sebanyak enam kali, selain dari Mughirah yaitu adalah Saad ibn Abi Waqas, ia menyalah gunakan jabatannya seperti meminjam uang tanpa melapor pada khalifah. selanjutnya seseorang pilihan rakyat Bashra namun hanya memimpin selama beberapa bulan kemudian dilanjutkan dengan Walid ibn Uqbah yang merupakan saudara susuan Utsman, banyak keluhan rakyat bahwa is minum khamer dan pembawaannya keras dan kasar, tetapi setelah ia terbukti salah, ia dihukum dengan hukuman cambuk. Ini membuktikan bahwa ia tidak memandang Walid sebagai keluarga dan tidak dibelanya menjadi bukti Usman tidak melakukan nepotisme. Justru Walid yang kemudian bergabung dengan kelompok oposisi di Syam (namun tidak berhasil karena daerah binaan Muawiyah adalah pendukung kalifah), Kuffa, Bashrah, dan Mesir, untuk melancarkan propagandanya dan memusuhi kalifah. Setelah Walid melancarkan propaganda yang kotor, menghancurkan bangunan kepercayaan yang megah dibangun awal periode Utsman, hancur lebur dengan sikap Walid. Dalam al ini, Walid situasi sudah di luar kendali, meskipun dipecat dan dicambuk, tetapi kemudian kalifah membiarkannya secara bebas propaganda.  Selanjutnya Said ibn al-Ash yang merupakan keponakan Khalid, ia cakap dan berprestasi terutama dalam penaklukkan Persia Utara, Azerbeijan. Namun ia dituduh nenomor satukan Arab dari pribumi, ia juga seseorang yang tak sabar serta peminum khamer d) terakhir adalah Musa al-Asy’ari yang merupakan mantan Gubernur Bashrah dan bukan merupakan famili Utsman namun ia tak dapat mengatasi situasi, kepemimpinannya tidak sebaik pada waktu ia menjabat sebelumnya. Justru  setelah asy’ari yang tidak ada hubungan darah dengan Utsman, pengganti Sa’id. Di sisi lain, Abdullah orang yang sangat dikagumi khalifah Utsman dengan berbagai prestasinya, namun akhirnya dipecat atas desakan rakyat Mesir dan menggantikan Muhammad ibn Abu Bakar.

D. Sebab-sebab Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan
            Sebab-sebab utama terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan antara lain; pertama, akibat tuduhan nepotisme/KKN, menyalah gunakan uang Negara dan diberikan kepada keluarganya. Utsman memang kaya dan kekayaannya ia gunakan demi Islam pada masa Rasul; kedua, pengangkatan kepala daerah yang berasal dari keluarga, hal ini sepertinya tidak wajar jika Utman disalahkan, Utsman tidak berlaku nepotis seperti yang ditujukan kepadanya terbukti dari tidak semua jabatan berasal dari keluarganya seperti pengangkatan Musa al-Asy’ari yang sama sekali tak ada hubungan darah dengan Utsman.  Kalaupun Utsman mengangkat pejabat dari keluarganya, tetapi mereka yang memiliki ahli dan cakap serta professional, diantara mereka adalah orang-orang yang berprestasi seperti pengangkatan Muawiyah sebagai Amir Syam ia adalah orang yang mampu mengancurkan pangkalan angkatan laut Bizantium, ia juga terkenal lihai yang mampu meredam sengketa antara suku Arab Utara dan Selatan, begitu pula dengan Marwan sebagai sekretaris Negara dan beberapa keluarga Utsman lainnya; ketiga, tuduhan menggelapkan keuangan Negara, diindikasikan ketika khalifah memberikan al-kumsu secara cuma-cuma pada Abdullah dengan tujuan demi membakar semangatnya supaya ia proaktif menghadapi musuh di laut, mengingat ia adalah pemenang pertama pertempuran di laut; keempat, khalifah telah lanjut usia yang menyebabkan tidak mampu mengatasi situasi pada fase kemunduran, hal ini dipicu dengan dimanfaatkannya khalifah oleh kepala daerah, mereka berlaku semena-mena di luar kontrol khalifah, hal inilah membuat khalifah mudah tunduk kepada para pembangkang. Selain itu para gubernur juga semena-mena dalam kebijakan ekonomi; faktor lain terjadinya pembakaran mushhaf al-Qur’an pada masa Utsman menyebabkan jurang antara Anshar dan Muhajirin; persoalan pertahanan ekonomi, termasuk pelarangan transaksi jual beli diluar Arab; selain itu itu, Negara memiliki tentara yang handal dan terlatih tetapi tidak dimanfaatkan khalifah justru diambil alih dan dimanfaatkan oleh pra pengacau; penyebab terakhir adalah penemuan surat khalifah yang ditujukan kepada para amir, setiba mereka ke daerah masing-masing terutama Bashrah, Kuffah dan Mesir “bunuhlah mereka”[19]. Menurut M. Abdul Karim (2012:103) hal tersebut merupakan salah penafsiran Arab yang kemungkinan besar adalah hasil rekayasa Ibn Saba’, yakni setelah khalifah membujuk para pembangkang agar mereka pulang ke daerah masing-masing. Saat mereka sedang pulang (orang Mesir) menemukan surat dari kurir pemerintah yang menyatakan (dibacakan); فاقتلوهم bunuhlah mereka yang semestinya diartikan فاقبلوهم terimalah mereka. Karena tulisan khalifah jelas menggunakan bahasa Arabgundul waktu itu yang dengan tanpa titik dan koma[20]. Bagi para pembangkang yang buta huruf disalahbacakan, maka menimbulkan arti yang salah pula. Kemudian Ibn Saba’ memancing emosi dan memanfaatkan situasi. Akhirnya mereka yang datang berasal dari tiga wilayah tersebut kembali ke Madinah mengepung rumah khalifah untuk meminta pertanggung jawaban atas surat itu. Walaupun khlaifah sempat berkata tidak mengetahui surat yang menyatakan membunuh mereka pada akhirnya khalifah terbunuh dalam keadaan membaca al-Qur’an.

           
BAB VI
SIMPULAN

Al-Khulafa’ al-Rasyidin menurut bahasa artinya para pemimpin yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Sedangkan menurut istilah yaitu para khalifah (pemimpin umat Islam) yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai kepala negara (pemerintah) setelah Rasulullah SAW wafat. Pengangkatan seorang pemimpin atas dasar musyawarah yang dilakukan secara demokratis. Ciri masa ini adalah para khalifah betul-betul menurut teladan Nabi. Setelah periode ini, pemerintahan Islam berbentuk kerajaan. Kekuasaan diwariskan secara turun temurun. Selain itu, seorang khalifah pada masa al-Khalifah al-Rasyidin, tidak pernah bertindak sendiri ketika negara menghadapi kesulitan; Mereka selalu bermusyawarah dengan pembesar-pembesar yang lain. Sedangkan para penguasa sesudahnya sering bertindak otoriter. Setelah wafatnya Nabi inilah yang disebut Khulafaur Rasyidin. Jumlahnya ada 4 orang, yaitu:
a) Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )
b) Umar bin Khatab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)
c) Usman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)
d) Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)
Sesudah Ali bin Abu Thalib, para pemimpin umat Islam (khalifah) tidak termasuk al-Khulafa al- Rasyidin karena mereka merubah sistem dari pemilihan secara demokratis menjadi kerajaan, yaitu kepemimpinan didasarkan atas dasar keturunan seperti halnya dalam sistem kerajaan.
Dengan wafatnya khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan secara turun-temurun, sehingga disebut Daulat / Bani Umayyah.
Kedudukan sebagai khalifah kemudian dijabat oleh purta Ali yaitu Hasan selama beberapa bulan. Namun, karena Hasan menginginkan perdamaian dan menghindari pertumpahan darah, maka Hasan menyerahkan jabaran kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Dan akhirnya penyerahan kekuasaan ini dapat mempersatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik, di bawah Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Di sisi lain, penyerahan itu juga menyebabkan Mu'awiyah menjadi penguasa absolut dalam Islam. Tahun 41 H (661 M), tahun persatuan itu, dikenal dalam sejarah sebagai tahun jama'ah ('am jama'ah). Dengan demikian berakhirlah masa yang disebut dengan masa Khulafa'ur Rasyidin, dan dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam.
DAFTAR PUSTAKA


Hamka. Sejarah Umat Islam. Jakarta:Bulan Bintang, 1975
Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta:Bagaskara, Cet. IV, 2012

Sou’ayb, Yoesoef. Sejarah Daulat Khulafaurrosyidin. Jakarta:Bulan Bintang,1979
Al-Quraibi, Ibrahim. Tarikh Khulafa’. Terj. Faris Khairul Anam. Jakarta Timur:Qisthi Press, 2009

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dirosah Islamiyah II. Jakarta:PT Raja Grafindo     
            Persada, 2010


[1] Ibrahim al-Quraibi,  Tarikh Khulafa’.Terj. Faris Kairul Anam  ( Jakarta:Qisti Press, 2009) hlm. 17-18
[2] Yusuf Su’aib, Sejarah Kedaulatan Khulafaurrosidin (Jakarta:Bulan Bintang) hlm. 10
[3] QS. 5 (al-Maidah):4
[4] QS. 3 (Ali Imron):159; dan QS. 26 (asy-Syu’ara’):38
[5] QS. 21 (al-Anbiya’):107
[6] QS. 33 (al-Ahzab);40
[7] Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta:Bagaskara, 2012), hlm. 79
[8] Ibid, hlm. 78

[9] Pada waktu itu Syam merupakan wilayah Bizantium bukan wilayah Arab
[10] Yusuf Su’aib, Sejarah Daulat Khulafaurrosyidin  (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)  cet. Ke VII hlm. 36
[11] Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta:Bagaskara, 2012), hlm. 81
[12] Dameskus pada saat itu merupakan kota penting  dan menjadi jalur perdagangan internasional
[13] Ibid, hlm. 87
[14] Ibid, hlm. 86
[15] Di sumber lain dikatakan Abu Lu’lu membunuh Umar sewaktu solat subuh. Sebab-sebabnya antara lain Mugiroh adalah tokoh yang mair melaporkan majikannya yang memberikannya gaji yang tak layak, tetapi kenyataannya tidak benar, hal ini menimbulkan dendam Mughiroh, selain itu ia adalah seorang zhimmi.
[16] Ibid, hlm. 88
[17] Sumber lain mengatakan sampai ke Tunisia
[18] Sekarang menjadi wilayah Pakistan
[19] Ibid, hlm. 103
[20] Baru diterapkan saat khalifah Umayyah dan Abdul Malik bin Marwan.

No comments:

Post a Comment